Sepi itu merantai langkah ini, berulang kali aku mencoba berlari
tapi percuma. ia menusuk ulu hati, hingga aku terkapar tak berdaya
aku jatuh
Di,
Malam ini aku bercerita pada seorang tak bersuara. aku tumpahkan segala
keluh ini. cerita-cerita klasik yang tak menarik tentu saja. dua jam
berlalu, hanya kerutan di dahi saja yang kulihat darinya. mungkin tak
mengerti dengan semua maksudku. mungkin begitu, tak semua orang bisa
mengerti dengan cerita ini. terlalu rumit untuk aku jelaskan.
Sementara hujan turun lagi. tak lagi kudapat sentuhan manis bibirmu.
aku resah meratapi rintik hujan yang berubah menjadi luka
seketika hening menyiksaku
aku
terus bercerita, dan ia terus terdiam. lipatan kulit di dahinya semakin
berkerut. aku tak peduli, aku terus bercerita menumpahkan segala keluh
ini. berharap bisa sedikit mencairkan beku yang lama bersemayam di
hati.aku pikir wajar. cerita-cerita klasik itu hanya soal perjalanan
panjang yang melelahkan. memabukan diri dan gusar karena dendam yang
muncul setelah cerita itu karam masih tertinggal dalam benak. berusaha
membunuhnya, tapi tak pernah berhasil dilakukan.yang terjadi hanyalah
pergulatan sengit antara nurani dan masa lalu. bertarung hampir di tiap
detik. nurani yang terjepit, sementara dendam masa lalu bergemuruh
kencang.
hujan menyisakan luka
barangkali sebait romansa telah karam diterjang badai
tak ada yang tersisa; tentu saja!
aku
sudah muak dengan semua itu. bahwa; satu-satunya yang tak bisa
kulakukan hingga tadi pagi adalah membunuh masa lalu. tapi, bukankah
setiap orang pernah melakukan kesalahan di masa lalunya? pun demikian
dengan diriku. aku pernah terperosok dalam lubang hitam. kesalahan
fatal yang tak bisa termaafkan tentu saja.
Dengan apa aku
menebus semua salahku? buaknkah tak semua mengerti dengan ceritaku. pun
lelaki tua yang mendengar ceritaku.hanya asap rokok yang keluar dari
mulutnya. tak ada suara, cerita-ceritaku sama sekali tak terdengar. aku
tak bisa lagi bercerita. suaraku hilang, tak ada nada yang tercipta dari
mulutku.
aku meratapi hujan
biarlah,
aku sendiri yang merasakan sakit atas luka ini. sedikit pun aku tak
meminta kau untuk mengerti dengan keadaan ini. biarlah, hujan tak lagi
mesra. senandungnya berganti lirih. aku tertatih mengejar asa yang
tertinggal.
hanya sepi. ia terus membayang di setiap
langkah. aku berusaha menghindar, tapi nihil. ia menusuk sendiku,
meranggas dendrit-dendrit otakku. sekeras apa pun aku berusaha
menghindar, ia tetap merantai langkah ini.hingga akhirnya aku
tersungkur. terkapar oleh luka paling liar.
Ah Di, aku tak tahu bagaimana cara mengungkap semua ini
biarlah semua menjadi rahasia
usah kau peduli dengan diriku
berjalanlah terus, gapai semua angan
Sampai
kapan aku terdiam begini, luka itu semakin menyayat saat aku terdiam
sepi. semua cerita-cerita tergambar jelas di pelupuk mata. ada
mimpi-mimpi yang diinginkan mewujud menjadi nyata.
tapi, mungkinkah terwujud? sementara perih masih mengintai setiap langkah ini?
setelah hujan berlalu
aku mendamba pelangi datang menjemput
mengobati segala perih yang ada
meski tak akan pulih dalam sekejap
tentu saja
Aku
terus berjalan bersama luka ini. meski tertatih aku terus melangkah.
Ada sebait luka yang menemani. hinggap begitu saja. namun tak lama.
bait-bait romansa yang lain membayang dipelupuk mata. satu-persatu.
memutar semua ingatan. antara duka dan ceria, manis, semua tergambar
begitu jelas.
aku akan terus berjalan, membawa mimpi-mimpi
yang akan aku jadikan nyata. perih ini mungkin akan terus mengintai,
sekuat tenaga aku akan etrus menghindar. jika pada akhirnay aku mati
terkapar, tak apa. biarlah hujan terus menusuk setiap luka, tapi pelangi
akan datang setelah hujan reda.
aku terus berjalan menghadapi segala rintang yang ada
menggenggam mimpi-mimpi yang akan aku wujudkan menjadi nyata
berjalan terus, meski tertatih
Created By : Insan Kamil