Pages

Sastra Bebas Headline Animator

Rabu, 02 Mei 2012

“ Yogyakarta “


Pagi yang beku di dataran utara Yogyakarta
Sinar mentari di minggu pagi tak terasa hangat
Tubuhku terasa dingin…

Lelaki mimpi terkurung di dalam ilusi
Terbuai oleh sepi yang tak menepi


Kicau burung dalam sangkar
Seperti menyanyikan kegelisahan

Dingin pagi pun mulai berkabut
Dan mentari tertutup mega mendung

Hidup seperti mati, sebab mimpi - mimpi terikat terikat batas
Waktu tak lagi berpihak, terdiam dalam batas ruang

Oh… Yogyakarta kini menjadi tempat yang tersakiti
Oh… Merapi engkau pun terdiam dalam kemarahanmu
Oh… Laut Selatan ombakmu kini lemah

Para Raja pun berduka di alam baka
Menangis bersama roh para prajurit setia
Engkau meratapi tanahmu yang tak lagi hidup

Tergusur oleh arus globalisasi penguasa
Rakyat terpenjara diatas tanah Raja

Yogyakarta tak lagi punya kuasa nya
Sebab Negara telah di huni pengusaha

Pagi yang beku, menjadi diam menuju kebimbangan
Lelaki pun mengeluarkan wejangan air mata
Mendoakan atas hilangnya tradisi Jawa.

“ AKu Adalah Diam ”

Aku hanyalah warna hitam
Namun hatiku tidaklah gelap
Yang gelap hanyalah lorong kehidupan

Gambarku tidaklah berwarna
Bahkan tidak ada putih
Karena rupaku mereka beralih


Semutku semut hitam
Tak bisa menggigit seprti semut merah
Yang terbunuh diantara sengaja dan tidak sengaja

Karena aku adalah yang lemah
Diantara manusia yang tak melawan

Kemarahanku hanyalah diam
Karena hatiku membri ruang untuk menyimpan

Namaku tak pernah dibincangkan
Karena aku diantara yang tak bernilai

Hitam adalah warnaku
Tidak berwarna adalah rupaku

Adalah namaku tanpa kemanusiaan

Diam adalah caraku
Melawan marah dan pembunuhan

Ruang hitamku
Adalah kematianku









Yogyakarta, 28/01/2012

“ Ibu ku Yang Malang ”



Ibu ku yang malang…
Bersama sayap malam engkau terbang

Wajahmu yang cantik…
Matamu menyimpan kehidupan yang pelik

Tubuhmu memancarkan nafsu birahi
Ratusan laki-laki telah menikmati

Ibu ku yang gelap malam
Pekerjaanmu membuat aku terdiam
Hingga aku tak mampu marah dalam gelisah
Tak mampu membenci maupun memuji

Ibuku yang malang
Wajahmu biru lebam karena di hantam

Demi kemiskinan yang engkau tantang
Engkau tetap terbang dalam malam








Yogyakarta, 28/01/2012


“Lelah Melangkah”

Jiwa yang telah lelah melangkah
Namun tak ada tempat perisitirahatan

                Terpaan angin selatan menghempasakan
                Kedalam Penjara yang paling Gelap

Semuanya di tantang dengan tegak amarah
Jiwa yang luka beku, beku akan rasa marah
Marah yang membara terhadap hidup yang congkak

Sampai tak tahu, terhadap apa dan siapa harus meneriakan dendam
                 

Hingga jiwa lelah melangkah

Hening dan merenung
Hingga tertunduk dan terjatuh di bawah bumi
                
Tak ada pundak untuk bersandar

                Mereka pergi membenci
                Mereka pergi mengkhianati

Dan terbuai, sendiri dengan benci yang tak bertepi
Jiwa yang telah lelah
Tak mampu melangkah lagi








Yogyakarta, 28/01/2012

Jumat, 27 April 2012

"Yang Hilang"

Terpenjara Dalam Ruang Jiwa
Ingin Terbang Jauh Mnegelilingi Samudera
Menikmati Hidup Dengan Petualangan Nyata

Namun Semua Tak Bisa Di Lakukan Tanpa Kepastian

Temanku Menghilang
Sahabatku Telah Tertimbun Tanah Makam

Pengkhianatan dan Kecewa Membuat Aku Terbelenggu

Aku Ingin Pergi Jauh Ketempat-Mu Tuhan
Namun Tak Bisa Kulakukan Dengan Paksa
Panggilah Jiwaku Dalam Tenang
Bukan Dalam Sakit dan Di Tangisi Orang Munafik

Matikah Rasa Ini?

Sebab Aku Sendiri
dan
Kosong Jiwa Dalam Hidup

Malaikat Bawalah Aku Ke Alam Dewa
Agar Aku Puas Meninggalkan Alam Nyata







Semarang, 27 April 2012

Jiwa Yang Kosong

Sepi Dalam Keramaian

Segelas Kopi dan Sebatang Rokok Tak Mampu Lagi Menjadi Teman

Kosong Dalam Ketidakpastian

Wahai Sang Pengisi Jiwa Dimanakah Engkau?

Sepi Membuatku Menyendiri

Terkurung Oleh Jiwa Yang Kosong

Jiwa Yang Mengerti Hanyalah Ilusi

Apakah Harapan Itu Ada?

Atau Hanya Aku lah Yang Tak Bisa Menikmati Sepi

Sepi Yang Hening Tak Menentramkan

Jiwa Yang Kosong Tak Bersuka Cita

Wahai Sang Pendengar

Bisakah Engkau Menjadi Temanku Dalam Sepi?





Semarang, 27 April 2012

Sabtu, 21 April 2012

Bosan Dengan Kenyataan

Aku sedang bosan... bosan dengan kenyataan, maka kini aku berlari menghindari fakta-fakta yang membuatku terbunuh dengan rasa sakit lebih parah...

Hanya alam halusinasi yang tak pernah membuat aku bosan, dengan memasukan cairan kedalam darah lalu aku terbang tinggi jauh bisa melihat wajah-wajah kalian yang penuh dengan kemunafikan....

Aku diatas alamku bisa menertawakanmu dan semua aktivitas kehidupanmu dimata kami tak pernah berarti, selain yang kau perjuangkan hanya untuk kekuasaanmu saja dan juga kerakusanmu didalam mengambil hak-hak kami.

Maka aku bosan melihat ulahmu yang tak layak hidup sebagai manusia, dimanakah jargonmu yang kau gaung-gaungkan saat kita bersama mengalami penindasan, satu suarakah? atau pengkhianatankah? kau pikirkan saja sendiri, karena disini aku sedang melihatmu didalam kebosanan kenyataan hidup yang ternyata diantara kita saling menikam, lalu siapakah yang layak disebut pengkhianat?

kau telah duduk dikenyamanan materi, apapun yang kau punya namun kami disini menderita tertindas oleh penguasa-penguasa baru, lalu apa yang kalian lakukan sebenarnya? tak pernah kah kau hidup dijalanan? untuk mendapatkan semuanya dijalanan apakah kau penah mengalami itu? banyak diantara kami mengalami itu? makan, tidur, mabuk cari uang semua dijalan.

Dulu kau berteriak dengan kencang memperjuangkan atas nama kami, atas nama orang-orang yang tersingkirkan lalu kau kemanakan nama-nama tersebut? dijualkah? aku tak tahu karena yang aku tahu kini kau diam setelah popularitas dan jabatan kau dapatkan, setelah kau ikut menikmati rasanya uang yang bukan hak kamu,
bosan aku sebenarnya mengingatkan dirimu kawan, bosan juga aku melawan propagandamu, mengapa yang kau lawan kami? musuh kita ada di pengambil kebijakan jangan lagi kau mengkritisi teman-teman seperjuanganmu tapi tak penah kau berikan solusi.

Apakah kini engkau telah menjadi antek-antek para penikmat uang luar negeri, uang-uang yang bukan hak kamu, sehingga kau menjadi pesuruh untuk mengadu domba diantara kami.

Bosan aku menanggapi propagandamu yang menjerumuskan dan mengadu domba kelompok yang tersingkirkan dan aku bosan dengan kenyataan yang penuh dengan Tirani ini!!!

Maafkan Aku Kawan

Maafkan aku kawan..., 
Seperti kau ketahui ketika aku mengalami tekanan yang sangat dalam dan tak bisa lagi aku ucapkan kepadamu, sehingga yang terjadi aku harus berbuat tindakkan mengambil cinta ditempatmu. 
Tapi yang pasti aku tak pernah melakukakannya terhadapmu...
Aku Melakukannya Dengan Perasaan Cintaku Padanya

Aku tahu situasi yang terjadi terhadap hidupmu.
Namun Itu Bukan Urusanku, Aku Hanya Berurusan Dengan Persaanku Terhadap Milikmu.
 
Seperti kita ketahui bersama telah lama kita hidup didunia kegelapan dan dunia kecanduan apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan kebutuhan hidup dan bertahan untuk hidup.

Maafkan aku kawan, 

hanya kata maaf yang mampu aku ucapkan kepadamu saat ini... 

Sejujurnya sebagai manusia akupun tak mau melakukan itu kepada siapapun....
Maka dari itu maafkan aku... 
maafkan aku 
dan 
maffkan aku!!!

Takut dan Gelisah

Tadi aku merasa gelisah dan takut, entah kenapa perasaanku selalu dihantui ketakutan-ketakutan yang tidak pasti, padahal ketakutan yang membuat aku gelisah hanya ada dialam pikiranku saja.
Mengapa aku selalu berkutat dengan perasaan-perasaan yang tidak nyaman?
Kehidupan membuatku terbebani oleh semua yang tak pasti, mau dibawa kemanakah diri ini?
Mantra-mantra maupun kata-kata suci telah aku ucapakan berulang kali, namun tetap saja aku merasakan perasaan yang terus berubah dan selalu berujung ke sebuah rasa takut.
Itulah yang terjadi, mimpi-mimpi kaum miskin adalah mimpi-mimpi rasa takut, mimpi-mimpi yang tak pernah berujung dengan kesejahteraan dan kedamaian, melihat situasi yang tiada henti penuh dengan penindasan, sehingga aku berubah menjalani sebuah profesi yang bertentangan dengan hukum negara ini, dengan norma-norma sosial masyarakat kita.
Aku mencuri, merampas, menipu bahkan juga aku merampok orang-orang yang mempunyai kesejahteraan lebih, demi memenuhi kebutuhan hidup sebab hidup sederhana apalagi miskin sudah tak mungkin bisa hidup di dalam gencarnya pembangunan zaman yang terus mengarah kepada nilai-nilai kapitalisme individualistik.
Tidak ada lagi tempat bagi orang-orang minoritas, sebab tanah air kami selalu dirampas, hak kami pun dirampok tak lagi melekat dalam diri seorang manusia.
Mimpi apa negara ini? karena yang terjadi selalu ketimpangan...
Aku gelisah berkutat diantara ingin melawan atau terbawa arus perkembangan modernisasi. 
Dan modernisasi yang ada sekarang ini semakin menjerumuskan kami sebagai rakyat miskin. 
Aku takut ketika aksi Robin Hood yang kujalani ketahuan oleh para penguasa tanah rampasan nenek moyangku sebab aku berjalannya sendiri, tidak ada orang yang mau melawan ketidak adilan ini, tidak ada teman untuk melakukan aksi, sebab semua orang kini telah diracuni oleh rasa keserakahan, bahkan anak-anak kita pun diajarkan untuk melakukan penindasan terhadapa sesamanya.
Apa yang terjadi terhadap situasi sosial ini? 
Apa yang telah dilakukan negara kita ini? 
Mengapa bumi pertiwi ini menciptakan rasa takut?
Sekolah-sekolah diganti dengan tempat penginapan berbintang 5, 
Anak sekolah kita dirundung rasa takut dan gelisah akan masa depannya, 
Sebab negara ini masih menerapkan Ijazah sebagai acuan seseorang menjadi pintar. 
Gedung dan Mall terus dibangun tak ada lapak untuk mencari uang dan tak tempat untuk bersekolah, 
Maka tak ada tempat untuk hidup bagi kita!!!

Orang Biasa Kehidupan Tak Biasa

Orang Biasa, mereka yang menjalani hidup dengan tak biasa. 
Yang menjadi benang merah dialam negeri ini, yakni kehidupan, lingkungan, dan kebudayaan, 
perspektif kami saat ini juga bertolak dari upaya untuk menelaah, dan memarpakan hal-ihwal realitas disekitar kita. 
Orang-orang biasa, sebagaimana sesuatu yang biasa lainnya, seringkali luput dari perhatian, tidak masuk dalam perhitungan, dan lebih banyak dilupakan. 
Siapakah mereka, Mengapa mereka diabaikan?  
Orang biasa, rakyat kebanyakan, kaum awam. 
Mereka lebih banyak disebut untuk kepentingan diluar mereka sendiri.
 Lebih-lebih dimasa sekarang ini dimusim politik. 
kelompok elite yang menyebutkan diri wakil rakyat dan pemimpin bangsa datang dan mengaku-aku sebagai pengayom, menebarkan pesona, berlomba-lomba membunuh rakyat dengan Undang-Undang yang kejar target. 
Setelah luput, selesai juga semuanya masyarakat terbunuh oleh sistemnya namun mereka kembali meraih kekuasaan dan kekayaannnya. 
Dan orang-orang biasa kembali menjadi mereka yang luput dari perhatian siapa saja. 
Juga kita.  
Orang-orang biasa inilah yang sesungguhnya pemilik sah kehidupan. 
Mereka menjalani kehidupan nyata dan apa adanya diri mereka. 
Dan, sungguh, ada banyak hal luar biasa yang bisa kita petik dari kehidupan mereka. 
Alangkah banyak realitas kehidupan orang biasa yang sungguh luar biasa, ketika kita sungguh-sungguh menyimaknya. 
Mereka yang hidup dengan penghasilan jauh dibawah standar minimum, bayi-bayi yang tidak mendapatkan asupan gizi memadai, orang-orang yang tertawa menghadapi benteng untuk merebut hak asasinya, korban napza yang selalu menghadapi pelanggaran hak asasi yang terus datang setiap waktu setiap Undang-undang disahkan, rakyat yang berkali-kali digusur dari satu tempat ketempat lain. 
Siapakah mereka yang begitu tegar melewati dunia tak biasa itu?  
Juga mereka yang keras kepala menata lingkungan, mereka yang suntuk menghidupi seni-seni tradisi, mereka yang terus mengabdi untuk kehidupan tanpa harus mengundang para wartawan, tak mengaharapkan kedudukan dan lencana penghargaan. 
Mereka para laskar mandiri yang tidak pernah mendapat donasi, anak-anak kampung yang harus berjalan berkilometer menuju sekolah yang bobrok, kaum muda yang berkarya untuk sesama. 
Alangkah banyak orang-orang biasa yang memiliki kehidupan tak biasa. 
Kepada mereka kita belajar menjalani kehidupan dengan apa adanya…
Agar Menjadi Luar Biasa dan Berguna Untuk Bangsa

Hukum Di Negeri Dongeng

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
sekilas bait-bait kebangsaan negeri kita yang terkadang membuat kita terharu
ketika kita megumandangkannya. Dan ketika budaya, seni dan tanah pulau kita di ganggu gugat oleh negara yang lebih kecil
dari kebanyakan pulau-pulau Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. membuat rasa nasionalisme kita bangkit dengan menggelorakan perlawanan dengan bahasa " ganyang". Namun yang lebih mengironikannya adalah ketika tiga institusi hukum negeri kita dipermainkan saling diadu dombakan bagaikan permainan yang mudah ditentukan siapa yang harus dihukum dan siapa membeli hukum, saking tenarnya issue ini sampai-sampai mengalahkan ketenaran gosip-gosip para artis, karena dibuktikan acara gosip di televisi juga menayangkan gosip hukum kita, bahkan juga situs jejaring sosial ikut meramaikannyasehingga semuanya dikalahkannya
oleh hukum yang sedang bermain-main di acara gosip menggantikan posisi artis dan situs jejaring sosial menggantikan para manusia yang biasanya sibuk
mencari teman-teman lamanya dan teman-teman yang baru dikenalnya
mungkin juga para kekasihnya dan juga mencari kekasih baru, namanya juga tempat gosip dan situs jejaring sosial hanyalah sebuah permainan, bisa dibayangkan mengapa hukum kita berada diantaranya? Seperti sedang bermain dan juga seperti yang tertulis diatas tulisan ini.Satu manusia menghebohkankan seluruh Indonesia, tidakkah hebat manusia itu? Atau terlalu rakuskah hukum-hukum kita akan kekayaan? Jelas ini membuat dunia tertawa melihat perilaku hukum dinegeri kita,karena yang sebenarnya berkuasa bukanlah suara rakyat melainkan uang para orang kaya dan para koruptor...!!!


Yogyakarta, 11 November 2009

Kamis, 12 April 2012

TerJebak

Kini masyarakat terjebak dengan berbagai aturan perundang-undangan negeri ini, pemerintah pun terjebak oleh suara mayoritas hanya untuk mensah sebuah undang-undang tanpa melihat dan mengkaji lebih dalam lagi siapa yang akan kena dampak dari perundangan-undangan yang ada khususnya Undang-undang narkotika.
Kami sebagai masyarakat yang pernah menjadi korban dari peredaran gelap napza semakin dibuat sebagai masyarakat kriminal, bahkan keluarga kamipun diperlakukan sebagai pelaku kriminal bila diantara keluarganya ada yang bermasalah dengan napza dan keluargaa tidak melapor akan dikurung penjara, undang-undang narkotika yang baru ini semakin parah dan tidak mencantumkan klausul mengenai Undang-undang HAM, bahkan ada pasal yang mengatur dengan hukuman mati!!!
ini bukan saja  membuat kami dan seluruh keluarga pecandu maupun mantan pecandu semakin tersingkirkan untuk mendapatkan hak asasinya sebagai warga negara, dan menurut kami undang-undang ini akan semakin melanggengkan budaya pelanggaran HAM dari pihak militer untuk melakukan tindakan korupsi, pemerasan, pelecehan sekssual, dan juga pelanggaran HAM secara sistematis oleh pemerintah maupun lembaga pemerintah yang menangani permasalahan Napza, karena Undang-undang narkotika sebelumnya sudah terbukti bahwa perederan gelap narkotika semakin merajarela, warga negara kita didalam penjara melebihi kapasitas lapasnya, yang lebih ironinya lagi hanya 2% produsen berada diadalam jeruji besi tersebut, angka kematian pecandu didalam penjara sangat tinggi karena tidak medapatkan haknya, yang seharusnya direhabilitasi, mereka harus menjalani kehidupan didalam penjara dengan virus HIV, AIDS dan Hepatitis C tanpa mendapatkan hak kesehatan, lalu mengapa perederan gelap masih menggurita dinegeri ini??
terkadang kita terjebak oleh segala opini yang menggaungkan anti napza, dengan segala perangnya melawan narkoba ternyata tidak dapat menyelesaikan permasalahan bangsa yang satu ini, lalu dimana hati dan pikiran jernih pemerintah kita didalam mensahkan Undang-undang narkotika ini tanpa adanya keterwakilan dari masyarakat sipil yang pernah mengalami dan sedang mengalami kecanduan.
Apakah sengaja Undang-undang Narkotika ini dibuat hanya untuk kejar target pemerintah yang masa baktinya telah dan akan habis?? atau Undang-undang ini dibuat secara sengaja hanya untuk memperebutkan kekuasaan dan melanggengkan peredaran gelap napza dinegeri ini, tak dapat dipungkiri permasalahan napza adalah lahan subur untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan meskipun harus terus meracuni anak bangsa dengan produk yang sangat berbahaya?
Apakah pemerintah telah terjebak oleh mafia napza?
Karena uang semuanya bisa dilakukan termasuk mensah Undang-Undang Narkotika walaupun dengan menjadi masyarakat yang peduli terhadap pecandu dijadikan sebagai pelaku kriminal??
Terjebak, terjebak oleh uang?
Oleh Mafia Napza?
Kekuasaan?,
Kekayaan?

Mimpi-Mimpi Yang tak Pernah Terlihat

Angin malam semakin menusuk sendi-sendi tulangku hingga aku gemetar kedinginan, padahal siang hari tadi panasnya juga sampai membakar emosi hingga mencapai ke ubun-ubun ayang akhirnya amarahlah yang keluar dari mulutku ini...!!!

Keringat yang keluar dan air dahaga yang aku minum tak sebanding dengan derasnya air keringat yang keluar, karena hanya setetes air yang hanya dapat aku minum.
Ini adalah sesuatu ketidak seimbangan bagi kehidupanku, maka yang terjadi gemetar tubuh ini dimalam hari. Orang-orang yang berada didalam gedung megah membuang literan air dahaga, tidak lagi air putih menjadi air pelepas dahaga mereka melainkan air-air yang penuh dengan warna-warna.
Begitu membencinyakah alam pembangunan terhadap kaum miskin seperti kami? sehingga kami terbuang diantara tanah kelahiran kami sendiri.
Milik siapakan kehidupan dan mimpi-mimpi ini? Mengapa kami semua sulit menggapai mimpi? sehingga bermimpipun kami harus sembunyi-sembunyi dibawah besarnya gedung-gedung yang dihuni kaum munafik, orang-orang yang penuh dengan jiwa binatang membunuh hanya untuk mendapatkan kepentingan individu ataupu satu kelompok saja. 
Lalu apa peran negara ini bagi rakyatnya? tak pernahkah negara mempunyai hati yang tulus untuk menjaga rakyatnya? mengapa masalah kami selalu diputar-putarkan diantara kebenaran dan pertolongan yang selalu di ungkapkan? namun tak pernah kami semua merasakan apa yang namanya kesejahteraan.
Aku bingung dan semakin bingung, seorang rakyat yang sedang mencoba memikirkan sesuatu tak ada tempat untuk menuangkannya, tak ada lagi ruang publik untuk kami yang selalu tersingkirkan diantara pembangunan.
Dan kearifan lokal gotong royong bangsa kita patut dipertanyakan, milik bangsa manakah gotong royong itu? sedangkan bangsa kita sudah tidak lagi memerankan gotong royongnya melainkan berubah menjadi individu-individu yang saling menikam,  individu-individu yang mulai dijadikan budaya oleh pembangunan agar diantara kita satu sama lainnya saling membunuh untuk terpenuhinya perut-perut yang kosong, untuk terpenuhinya tempat tidur dibawah modernnya jembatan-jembatan layang, jembatan-jembatan sungai dan dibawah tingginya gedung yang bisa saja menguburkan kita ketika alam mulai marah mengguncangkan tempat kita berpijak ini.
Maka mimpi-mimpi kita sebenarnya tak pernah terlihat oleh siapapun, tak pernah menjadi nyata untuk dinikmati bersama yang dilindungi adalah orang-orang yang mempunyai harta untuk mndapatkan mimpi-mimpinya menguasai jiwa-jiwa seperti kita, jiwa-jiwa yang dibodohkan jiwa-jiwa yang dimiskinkan dan jiwa-jiwa yang disakitkan, hidup kita dipegang oleh orang-orang yang tadinya hanya berkuasa terhadap tanah kita kini telah berkembang lebih kejam lagi yaitu menguasai kehidupan kita, mati dan hidup kita berada ditangannya, meskipun dengan perlawanan mimpi-mimpi kita tetap tak pernah terlihat...!!!