Pages

Sastra Bebas Headline Animator

Kamis, 23 Juni 2011

Keluar dari Hidup...

Aku Keluar Dari Jalan Hidupku...
Aku Telah Memilih Untuk Tidak Lagi Ada Yang Tersakiti
Namun Aku Tetap Tidak Bisa Berlari
Harus Tetap Ada Yang Tersakiti, Begitupun Tubuhku ini

Ibu... Sudah Tidak Lagi Ada Di Dalamnya
Kaki Surga-Nya Aku Sudah Tidak Tahu Lagi...

Pengkhiatan Terus Terjadi Dalam Hidupku
Terkhianati Atau Mengkhianati...

Dia Keluar Dari Hidupku Untuk Selamanya, Namun Tanpa Kepastian
Dia Bawa Orang Lain Untuk Menggantikan Kehidupanku Disisi nya
Dia Keluar Orang Lain Masuk Dalam Kesempatan
Apa Yang Pernah Aku Miliki Di Jadikan Milik Mereka

Aku Dirampas Apa Yang Seharusnya Menjadi Hak-Ku
Aku Di Injak-Injak Kemanusiaanku
Aku Di Hancurkan Rasa Setiaku Terhadap Cinta

Aku Keluar Dari Kehidupan
Aku Tak Pernah Berlari Dari Kehidupan
Aku Tak Pernah Takut Dengan Apapun
Aku Tahu Berjalan Di Jalan Yang Aku Yakini

Namun Aku Terbunuh Oleh Fitnah
Aku Terbuang Oleh Mereka Yang Sama
Dan Aku Keluar Dari Kehidupan Karena Terpaksa
Di Paksa, Di Rampas, Di Singkirkan, Di Penjarakan, Di Bungkam, Di Hitamkan, Dijadikan Kambing, Dihancurkan, Hingga Akhirnya Aku Harus Dimatikan

Oleh Mereka, Oleh Orang-Orang Yang Takut Kehilangan Kekuasaan dan Uang
Atas Nama Cinta dan Kasih Mereka Membohongi Diri Sendiri dan Orang Lain

Atas Nama Cinta dan Kasih ku Kepadamu- Aku Keluar Dari Kehidupan

Jumat, 17 Juni 2011

Mawar Mati...

Merah Mawar Merekah Dalam Warna Darah....
Daunnya Mengering dan Mati...
Hanya Cinta Yang Mengembalikan Putik Hijaunya...
Merah Mawar Yang Mati...

Cerita Tentang Cinta dan Kematian
Harapan dan Keputusasaan

Hidup Hanyalah Cerita Lama yang dibuat Oleh Para Nabi...
Kematian Adalah Tujuan untuk Menggapai Cinta

Aku Disini Sepi dan Rindu
Cinta Yang Aku Rasa Dalam Relung Perasaan
Rindu dan Sepi Membuat Aku Terbunuh Oleh Bayangnya
Dimanakah Cinta itu Berada...

Cinta Terasa Dekat Diantara Kematian
Aku Menyerahkan Semua Mimpiku
Hanya Dia Yang Aku Punya Dalam Harapanku...

Harapanku Adalah Harapan Yang Terlihat
TaK pernah Bertemu untuk Melepas Rindu

Aku Hanya Mampu Melihat Mawar Merahku Terus Mengering...
Dalam Dompet Ku Taruh Fhotomu
Namun Siapakah Engkau Yang Telah Menggangguku...

Cintakah atau Hanya Kematian Yang Aku Tuju...

Namun aku Tetap Bermain Dengan Alam Perasaanku
Aku Tetap Berharap Cinta Membawaku Kepadanya
Meskipun Aku Harus Memluknya Satu Detik Lalu Aku Mati
Sebab Itulah Tujuan Cita dan Cintaku Kepadanya

Janganlah Menjadi Layu Mawar Merahku...
Sebelum Cinta dan Kematian Menjemput Hidupku

Mawar Merah Yang Merekah Namun Mati...

Senin, 23 Mei 2011

Aku Tak Pernah Tahu...

Aku tak pernah tahu jika selama ini kamu terus ada dalam bayangku
Ku Sadari kini, aku tak bisa lagi memungkiri perasaan yang aku punya untukmu
Betapa aku sangat terobsesi mendapatkan cinta dan kasihmu
Tapi kamu tak pernah nyata, meskipun aku rasa
Kamu tak pernah terlihat ku tahu engkau ada

Aku tak pernah tahu harus bagaimana aku menyentuhmu
Aku tak pernah tahu harus bagaimana aku memeluk erat hangat tubuhmu

Andai aku bisa menukar hidupku denganmu asal ku tak mati merindukanmu 
Aku rela hilang asal 1 jam aku bisa menyentuhmu dengan nyata...
Aku mengharapkanmu, Aku merindukanmu, Aku terbunuh sepiku

Jangan lagi pernah hilang...
Aku Tahu, aku menjadi gila dan tergila-gila kepadamu
Aku tak lagi peduli siapa kamu, nyatakah kamu, atau hanya mimpikah aku
Aku hanya mampu merasakan perasaan yang sangat baik bagi kehidupanku

Aneh juga hidup ini, satu manusia dua kepribadian
Dia memainkan perannya masing-masing untuk tetap ada

Aku tak pernah tahu apakah dia ada atau tidak pernah ada...
Yang aku tahu, aku hanya ingin meraihnya walaupun tak pernah pasti

Senin, 04 April 2011

Butiran Embun Yang Hilang

Dia telah hilang terbawa hangatnya mentari...
Terbang bersama udara di langit
Pergi meninggalkan kehidupannya
Air embun Menjadi air mata...

Engkau Jauh dan sangat jauh tak terjangkau
Engkau pergi bersama malaikat
Meninggalkan daun-daun

Kini aku tak pernah tahu engkau siapa?
Sekilas melihat wajahmu hanyalah rasa sakit
Embun mu tak lagi membuat sejuk
Hanya kering tak berair lagi

Butiran Embun Ku Telah Hilang

Ingin Menghilang


Aku dengar ketukan pintu di suara hatiku...
Engkau Hadir dalam setiap mimpiku
Aku Benci ketika itu aku harus mengalami...
Kuingin sendiri dan mencoba melupakan bayangmu
Saat ini aku ingin menghilang...

Jangan dekat lagi bayangmu...
Jiwaku sedang runtuh jatuh
Saat Ini aku ingin sendiri dan menjauh darimu
Saat ini aku ingin Menghilang...

Aku yang salah
Aku memang salah

Aku ingin sendiri
Aku ingin Menghilang

Menjauh dan Melupakan Bayangmu
Aku ingin menghilang

Jumat, 25 Maret 2011

Pergi dengan Luka...

Kau seharusnya tahu bahwa aku membutuhkanmu
Di saat aku sedang goyah kau lepaskan aku
Kau biarkan aku terbang sendiri dengan sayap yang terluka ini
Kau hancurkan rasa cinta yang telah lama terbina
Kini kau menolak dan membuang aku

Kau tahu betapa terlukanya aku
Aku berjalan sendiri tanpa ada orang-orang terdekatku
Ku tahu aku banyak salah dengan hidupmu
Tapi kesetiaanmu aku mempertanyakannya
Inikah yang kau lakukan untuk membalas dendammu?

Atau kalahkah engkau dengan budaya mu?
Kau hancurkan aku lebih dari aku terhancur oleh adiksi
Aku Marah, Aku Kecewa...

Engkau yang ku agung-agungkan
Engkau yang selalu kupertahankan
Engkau kini melepaskan aku dengan alasan yang menghina aku sebagai manusia
Engkau menjatuhkan kemanusiaanku

Kini aku pergi sendiri melangkah entah kemana dengan membawa luka dan kecewa
Aku terpaksa harus membuang rasa cintaku
Aku terpaksa harus menghapus mimpi-mimpiku bersamamu

Akupun tak tahu apa sebenarnya yang terjadi
Kau biarkan aku pergi tanpa kelegaan
Kau biarkan aku sendiri tersesat

AKU LUKA...
AKU MARAH...
AKU KECEWA...

Mengapa harus terjadi di saat aku hendak memulai semuanya dengan baru?
Mengapa kamu memaksa aku menghapus mimpi-mimpiku?
Adakah kamu berjalan dan bermimpi dengan yang lainnya?

Senin, 21 Maret 2011

Terabaikan Oleh Maut

Serbuk mimpi menjadi embun wangi
Mengalir dalam nadi-nadi kehidupan
Terbawa arus gelombang darah
Terbang tinggi diatas awan bersama kenikmatan

Malaikat maut telah menanti
Selalu siap membawa pergi ke angkasa
Namun bisa juga kebawah bumi paling dalam

Asap rokok kembali membawa terbang jauh khayal
Tak peduli lagi darah keluar dari tempatnya

Dalam baringku menembus langit-langit
Tembok dan atap bukan lagi menjadi halangan

Dilarutkan lagi serbuk mimpi
Tertancap dalam nadi, darah menghitam
Mimpi telah hilang
Kegelapan telah datang
Malaikat maut tertawa melecehkan

Namun infus Rumah Sakit Mengembalikan sadar
Malaikat maut terdiam

Sendiri kah?

Sendirikah aku menjalani kehidupan ini?
Dimanakah mereka yang melahirkan aku?
Hidup memang tak aku sesali Namun air mata tak pernah terbendung menghadapi pahitnya kehidupan...

Hidup tanpa mereka yang mengasihi aku
Bagaikan pasir padang gurun yang berada ditengah-tengah padang rumput
Berdiri kaki di dua sisi kehidupan...

Kesalahan hidupkukah menggarisi takdir?
Tersesat dalam langkah
Tak mampu berontak melwan kehendaknya
Sebab DIA telah mengizinkannya berada dilingkaran kegelapan

Aku hanya ingin pulang
Dan tertidur di dalam pangkuanmu...
Dibelai oleh kasih-MU
Untuk jiwa-jiwa yang hilang seperti aku
Namun dimanakah DIA berada
Aku tak pernah tahu lagi kasihnya
Sebab aku kini sendiri

Berjalan dan berlari
dan terjatuh lagi
Hingga terluka dan tak mampu di obati
Oh..Ibu Rindukah Engkau
terbuang aku dan terlupakan

Menjelang Kebebasan

Kebebasan hanya menghitung hari
Belum ada rencana akan apa yang harus dilakukan
Menjalani dan mengalir seperti air
Air mengalir menuju samudera
Samudera kedamaian dan cinta

Tak terhambatkah aliran air ini?
Apa lagi yang terjadi setelah bebas mengalir?
Banjirkah air ini?
Sehingga meluap dan meluluh lantakkan sekitarnya

Hanya air yang mengalir dengan tenang menjadi harapan
Tanpa Kehendak-NYA tak sampai air mengalir sampai samudera...

Dia hanya butiran embun
Yang menguap ke angkasa
Terbawa angin dan terjatuh dibelahin bumi lainnya

Air yang mengalir menuju samudera
Air yang menjadi angin
Keduanya adalah kebebasan yang berbeda jalan
Melangkah dan menghidupi diri

Engkau Diam Ibu

Ibu...
Engkau terdiam
Engkau hidup dan menghidupi dengan kecantikanmu
Dalam malam ratusan laki-laki membentuk aku dalam rahimmu yang suci

Setiap shubuh engkau melangkah pulang
Setiap langkah air matamu berontak keluar tak terbendung

Ibu..
Kini engkau menghilang
Separuh nafas kau biarkan melangkah untuk hidup sendiri
Tanpa arah engkau melepaskan buah cintamu ini
Yang pernah kau bentuk oleh pekerjaanmu

Kini engkau diam...!!!
Tak melihat bahwa separuh nyawamu
Disini mencarimu

Engkau Diam
Engkau terdiam kosong menatap hilangnya buah cintamu

Rinduku

Padang pasir yang luas
Menghembuskan angin aroma tubuhmu
Menampar dan membelai wajah ini
Itulah Rinduku...

Malam gelap menanti sinar rembulan
Hitam malam dengan milyaran bintang
Itulah Rinduku...

Mentari pagi yang menghangatkan
membuat tumbuh bunga kehidupan
Itulah kasihku...

Indah pelangi terlukis oleh embun dan cahaya
Embun yang menyejukan dan cahaya yang menghangatkan
Itulah cinta...

Ingin bersama semua ini selamanya
Inilah kerinduan...
Inilah cinta...

Tanah Tak Bertuan

Pijakan Kaki Di Tanah Tak Bertuan...
Melangkah Di Dalam Rimba
Siapa Berdiri Kuat... Dia Menang!

Meski Kaki Selalu Akan Terkoyak

Tanah Tak Bertuan Mengeluarkan Amarahnya Dari Dalam Tanah...
Diantara Kehidupan Penuh Dengan Ketakutan dan Kematian

Diantara Kehidupan Yang Penuh Dengan Pertarungan
Benih Perdamaian Hanyalah Angan-Angan Di Atas Awan...

Tanah Tak Bertuan...
Tak Pernah Rela Hidup Damai
Karena Kedamaian Di Sini Yang Paling Kuat

Karena Tanah Tak Bertuan...
Hanya Hidup Manusia-Manusia Rimba

Jalanku

Tuhan Telah Mengizinkan aku mengalami hal-hal paling buruk dalam hidupku.
Aku tetap percaya bahwa ada hal baik yang disediakan bagi kehidupanku.


Manusia telah menolak kehidupanku...
Mereka tak mau menerima dengan sesuatu yang salah dalam hidupku...
Aku terbentur oleh kemapanan

Kini semua telah menjauh dan menghilang...
Jalanku... Tertati tanpa arah dan cinta
Aku goyah ketika ingin bangkit

Jalanku, tak ada kasih dan cinta
Mereka semakin membuat aku hina
Cinta hanya sebuah ke egoisan
Aku terbuang oleh orang tua kandungku
Aku ditinggalkan oleh kasihku
orang terdekatku menolak kehadiranku

Kini jalanku sendiri
Hanya DIA yang menuntunku
Namun kelemahanlah yang terjadi
Angkat aku Tuhan...
Dari Lubang gelap dingin dan menakutkan...
Sebab engkau telah menjanjikannya
Sebab aku akan mengerjakan perubahan hidup.

Inilah Jalanku...
Masih Panjang Meskipun Aku Akan Berjalan Sendiri Menuju Damai

Mimpi-Mimpi Yang tak Pernah Terlihat

Angin malam semakin menusuk sendi-sendi tulangku hingga aku gemetar kedinginan, padahal siang hari tadi panasnya juga sampai membakar emosi hingga mencapai ke ubun-ubun ayang akhirnya amarahlah yang keluar dari mulutku ini...!!!

Keringat yang keluar dan air dahaga yang aku minum tak sebanding dengan derasnya air keringat yang keluar, karena hanya setetes air yang hanya dapat aku minum.

Ini adalah sesuatu ketidak seimbangan bagi kehidupanku, maka yang terjadi gemetar tubuh ini dimalam hari. Orang-orang yang berada didalam gedung megah membuang literan air dahaga, tidak lagi air putih menjadi air pelepas dahaga mereka melainkan air-air yang penuh dengan warna-warna.

Begitu membencinyakah alam pembangunan terhadap kaum miskin seperti kami? sehingga kami terbuang diantara tanah kelahiran kami sendiri.

Milik siapakan kehidupan dan mimpi-mimpi ini? Mengapa kami semua sulit menggapai mimpi? sehingga bermimpipun kami harus sembunyi-sembunyi dibawah besarnya gedung-gedung yang dihuni kaum munafik, orang-orang yang penuh dengan jiwa binatang membunuh hanya untuk mendapatkan kepentingan individu ataupu satu kelompok saja.

Lalu apa peran negara ini bagi rakyatnya? tak pernahkah negara mempunyai hati yang tulus untuk menjaga rakyatnya? mengapa masalah kami selalu diputar-putarkan diantara kebenaran dan pertolongan yang selalu di ungkapkan? namun tak pernah kami semua merasakan apa yang namanya kesejahteraan.

Aku bingung dan semakin bingung, seorang rakyat yang sedang mencoba memikirkan sesuatu tak ada tempat untuk menuangkannya, tak ada lagi ruang publik untuk kami yang selalu tersingkirkan diantara pembangunan.

Dan kearifan lokal gotong royong bangsa kita patut dipertanyakan, milik bangsa manakah gotong royong itu? sedangkan bangsa kita sudah tidak lagi memerankan gotong royongnya melainkan berubah menjadi individu-individu yang saling menikam, individu-individu yang mulai dijadikan budaya oleh pembangunan agar diantara kita satu sama lainnya saling membunuh untuk terpenuhinya perut-perut yang kosong, untuk terpenuhinya tempat tidur dibawah modernnya jembatan-jembatan layang, jembatan-jembatan sungai dan dibawah tingginya gedung yang bisa saja menguburkan kita ketika alam mulai marah mengguncangkan tempat kita berpijak ini.

Maka mimpi-mimpi kita sebenarnya tak pernah terlihat oleh siapapun, tak pernah menjadi nyata untuk dinikmati bersama yang dilindungi adalah orang-orang yang mempunyai harta untuk mndapatkan mimpi-mimpinya menguasai jiwa-jiwa seperti kita, jiwa-jiwa yang dibodohkan jiwa-jiwa yang dimiskinkan dan jiwa-jiwa yang disakitkan, hidup kita dipegang oleh orang-orang yang tadinya hanya berkuasa terhadap tanah kita kini telah berkembang lebih kejam lagi yaitu menguasai kehidupan kita, mati dan hidup kita berada ditangannya, meskipun dengan perlawanan mimpi-mimpi kita tetap tak pernah terlihat...!!!

Kebencian Menghampiri...!!!

Anjing terus menggongong diantara kehidupanku membuat telinga dan hati tak kuasa menahan amarah...
Ingin kuteriakan dirimu bersama kemunafikan-kemunafikan yang kaumiliki, keluargamu seperti manusia biadab yang tak pernah tahu rasa kemanusiaan...

Jika semua ini hanyalah kepura-puraan untuk menutupi kesalahan yang pernah kita buat, kini semuanya kembali membenci tanpa rasa peduli satu sama lain, meski kita terhitung sebagai orang-orang terdekat diantara kalian namun yang kalian tunjukkan hanyalah kebencian kepada anak manusia yang selalu bersama sang kekalahan...

Dimanakah hati nurani sang saudara?
tidak ada tanpa rasa kau ungkapkan kata-kata kotor melalui ancaman-ancaman yang sangat bodoh dan mudah diketahui oleh diriku, tak perlu lagi ada kepura-puraan diwajahmu yang harus ditunjukkan hanyalah keberanian ke;uargamu mengungkapkan kepada seorang penumpang hidup orang-orang seperti aku...

Aku pun kini mulai depresi hidup bersama dirimu kini tak pernah berarti apa-apa lagi, sebab tak ada yang kau utamakan lagi selain dirimu dan kelompokmu, darahmu yang telah menyatu dengan tubuh dan cinta kau lupakan, kau biarkan untuk kau khianati...
Tak ada lagi bermain-main diantara kita sebab kita bukan lah manusia permainan atau mainan yang mudah kau apakan saja, layaknya boneka tak mampu berbuat apa-apa sebab yang berbuat apa-apa si Tuan yang memiliki boneka tersebut...

kebencian apa lagi kini yang menghampiri kehidupanku, tak pernah aku rasakan kedamaian airmata terharu bahagia bukannya airmata sakit hati karena jiwa yang tersayat-sayat oleh para penguasa...
Harta dan kekuasaan memang sangat menggoda seperti anggur merah yang dituangkan para Raja didalam Istana, dikelilingi dayang-dayang cantik, mau apa saja tinggal tunjuk sana-tunjuk sini, merampas harta kehidupan orang-orang yang lemah. kebencianpun semakin gila, darah didalam tubuh mendidih menjadi panas menggelora, hanya amarah dan perlawanan yang mampu meredam rasa kebencian ini, sebab diam terinjak-njak diatas kaki sang penguasa...